|| 1 Oktober : Hari Kesaktian Pancasila  | 2 Oktober : Hari Batik Nasional | 5 Oktober : Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI) | 10 Oktober : Hari Kesehatan Jiwa | 15 Oktober : Hari Hak Asasi Binatang | 16 Oktober : Hari Parlemen Indonesia & Hari Pangan Sedunia | 22 Oktober : Hari Santri Nasional | 24 Oktober : Hari Dokter Nasional & Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) | 27 Oktober : Hari Listrik Nasional | 28 Oktober : Hari Sumpah Pemuda | 30 Oktober : Hari Keuangan |||||||||||     

RADIO KARIMATA, SUMENEP – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) banyak dikeluhkan oleh orangtua siswa, pembelajaran ini berpotensi menimbulkan rasa bosan dan rasa malas siswa untuk belajar, khususnya siswa di daerah Kabupaten Sumenep.

Selama masa pembelajaran jarak jauh, banyak tugas yang diberikan oleh guru, kadang keadaan rumah yang tidak kondusif untuk belajar dan tidak adanya guru yang memberi pelajaran kerap menjadikan siswa merasa bosan. Tidak sedikit guru juga mendapat keluhan dari orangtua siswa tentang kondisi anak yang enggan untuk belajar.

Bahkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep mengaku mendapat keluhan dari para orang tua murid dengan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau melalui daring (online) selama masa pandemi Covid-19.

Drs. Ec. Carto, MM, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, mengatakan bahwa keluhan yang sering diterima Disdik Sumenep dari orang tua siswa adalah adanya siswa yang tidak meliliki HP android, sinyal tidak mendukung, dan beberapa faktor alam lainnya yang tidak dapat digunakan dalam menggunakan metode daring.

“Pembejaran tatap muka yang sudah mendapat izin hanya di 7 kecamatan di Kepulauan, karena di Kepulauan siswanya tidak bisa datang dari daerah lain, tapi tetap mengguanakan fase,” katanya saat on air di Dinamika Madura Radio Karimata, Senin (10/08/2020) pagi.

Selain adanya faktor alam dan HP yang mempengaruhi adanya kegiatan belajar mengajar melalui dalam jaringan (Daring), guru sulit mengelola pembelajaran jarak jauh karena cendrung ingin menuntaskan sesuai kurikulum.

Waktu pembelajaran yang kurang maksimal dan sulitnya komunikasi guru dengan orang tua menjadi salah satu faktor penghambat pembelajaran daring.

“Dari kalangan siswa juga menjadi kendala karena alasan telalu berat dengan adanya tugas yang menumpuk, sehingga dengan demikian di daerah-daerah khusus dinilai kurang efektif,” tegasnya.

Menurutnya ada 4 hal yang bisa di jadikan dasar untuk zona hijau untuk melakukan proses belajar mengajar tatap muka diantaranya, masuk zona hijau, izin dari ketua Satgas Covid-19 kabupaten, mampu menerapkan protokol kesehatan serta izin dari orang tua.

“Kami juga pernah membuat kebijakan daerah bersama dengan gugus tugas, Disdik Provinsi, BPBD, Dinkes, Kemenag keputusan zona hijau atau tidak itu tergantung dari keputusan Dinas Kesehatan,” tambahnya.

Sebelumya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengizinkan sekolah menerapkan proses KBM tatap muka, selama tegolong katagori zona hijau dan kuning pandemi Covid-19.  (Ziyad/Ans)

Live Streaming

MITRA USAHA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Search

Who's Online

We have 51 guests and no members online

Logo Mitra Kerja

  

 

Alamat

PT. RADIO SWARA KARIMATA

Jl.Raya Panglegur 123 Pamekasan
Tlp. 0324‐333555 / 333999
Fax. 0324‐331432