|||||||||||||  | 21 SEPTEMBER : Hari Perdamaian Dunia & Tahun Baru Islam 1439 H  | 24 SEPTEMBER : Hari Tani 26 SEPTEMBER : Hari Statistik | 27 SEPTEMBER : Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT) & Hari Pariwisata Sedunia  | 28 SEPTEMBER : Hari Kereta Api | 29 SEPTEMBER : Hari Sarjana Nasional | 30 SEPTEMBER : Hari Peringatan Gerakan 30 September 1965  ||||||||         {{{{{{{{{{{{     SIMAK INFO HAJI 2017 SETIAP HARI SENIN - SABTU SETIAP JAM 10.00 & 15.00 HANYA DI KARIMATA FM DINAMIKA MADURA      }}}}}}}}}}}}}

Oleh Abd Hamid  

Siapa tak kenal Madura. Berbagai persepsi positif negatif sering dilontarkan oleh orang dari luar Pulau Madura. salah satu persepsi positif karena Madura memiliki fenomena alam yang cukup memukau, kekayaan alam yang melimpahdan keunggulan budaya yang tidak dimiliki oleh etnik lainnya. akan tetapi disisi lain, persepsi Negatif juga tumbuh dalam masyarakat Madura, karena meiliki karakter “keras”, meski secara hakikatnya dipahami sebagai karakter “tegas”. masyarakat Madura juga dikesankan memiliki skill yang terbatas, pengetahuan yang sempit, kotor, kasar, Carok, premanis di kota-kota besar, dan selalu tampak menduduki usaha kelas ekonomi rendah, sehingga persepsi ini menjadi “bumerang” orang-orang Madura, meski dalam pemahaman keliru.

 

 

letak geografis Madura yang tidak jauh dari surabaya: kota terbesar no dua di Indonesia, merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi masyarakat madura. ditambah lagi membentangnya jembatan suramadu yang menghubungkan surabaya dan bangkalan membawa dampak yang sangat signifikan dalam pembangunan madura kedepannya.

Said Abdullah, salah satu DPR RI yang merupakan putera maduradalam pidato kebudayaan– menyatakan bahwa “terdapat sebuah stigma yang mendera suku Madura sejak lama. “Terdapat sebuah stigma sosial yang sudah lama dipergunakan ‘orang luar’ untuk mengidentifikasi masyarakat Madura hingga kini, yaitu keterbelakangan dan kekerasan. Dua label yang belum tentu benar itu selalu muncul ketika orang-orang berbicara tentang Madura dan masyarakatnya,” kata Said

 

berbagai persepsi yang mengatakan "perilaku orang madura keras" mulai di pertanyakan. tak lain dan tak bukan karena mereka mulai memahami tindakan "keras" yang selama ini mereka pikirkan tak sesuai dengan fakta. yang nyatanya "keras" disini mempunyai sebuah filosofi bahwa orang madura mempunyai karakter yang tegas, dan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar dalam segala hal. walaupun demikian, masih ada orang pedalaman yang tidak mau berinteraksi dengan orang Madura. Kalaupun ada kemauan untuk itu, mereka paling tidak harus berpikir seribu kali sebelumnya. Namun, bagi orang luar yang pernah berinteraksi serta mengalami sendiri hidup dan tinggal bersama orang Madura, baik di pulau Madura maupun di luar pulau, ternyata memiliki persepsi berbeda. Pada umumnya mereka mengakui bahwa pada dasarnya orang Madura memang “keras”, namun sebagaimana orang-orang dari etnik lain, orang Madura juga memiliki perangai, sikap dan perilaku sopan, santun, menghargai dan menghormati orang. Bahkan kualitas rasa persaudaraannya sangat tinggi.

 

Pajjar laggu arena pon nyonara, (pajar pagi akan segera bersinar)

Bapa’ tani  se tedhung pon jaga`a, (bapak tani yang tidur akan bangun)

Ngala` are’  tor landhu` tor capengnga,  (mengambil celurit, cangkul dan sakunya)

Ajalannagi sarat kawajiban,  (menjalankan kewajiban)

Atatamen ma banya’  hasel bumina,  (bercocok tanam, memperbanyak hasil buminya)

Ma ma’mor nagara  tor bangsana (memberi kemakmuran terhadap negara dan bangsa)

 

Dalam lagu tersebut tergambarkan bagaimana konsepsi masyarakat  terhadap pentingnya rasa tanggung jawab yang besar. baik pada tuhan, manusia, lingkungan dan negara. Dan juga dalam syair tersebut sedikit mewakili dari karakter orang madura yakni keika fajar sudah tiba para petani pergi kesawah untuk bertani guna menghidupi dan menafkahi keluarganya. Bukan hanya itu saja,mereka juga berjuang untuk Memakmurkan Negara dan Bangsanya. Bagi masyarakat madura, menjadi petani merupakan pekerjaan utama. Walaupun tanahnya kurang subur, dengan semangat kerja yang giat dan pantang menyerah mereka dapat hidup dari bercocok tanam tersebut. Nah, berdasar itulah mucul spekulasi baru dalam ranah Jawa bahwa orang Madura dikatakan “keras” dalam hal memperjuangkan harga dan martabat diri dan negaranya. Bukan hanya untuk kepentingan hawa nafsunya sendiri. Dan dari sinilah keberadaan masyarakat madura dalam ranah jawa disebut-sebut mempununyai peran yang sangat signifikan dalam membangun dan mensejejahterakan Negara dengan bermodal dari sebuah ke-disiplinan dan kesadaran Hati Nurani.

 

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Darul Ulum Jombang ( Unipdu )

Live Streaming

Search

MITRA USAHA

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Who's Online

We have 36 guests and no members online