Logo  |||||||||||||  | 12 JULI : Hari Koperasi  | 22 JULI : Hari Kejaksaan  | 23 JULI : Hari Anak Nasional & Hari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)  | 29 JULI : Hari Bhakti TNI Angkatan Udara31 JULI : Hari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati ||||||||   Logo Karimata

 

 

Oleh : Rafiqi Tanziel

 

Setidaknya terdapat empat hal yang akan menjadi fokus MEA yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia. Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan dari satu negara ke negara lainnya.

 

Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi, yang memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy (persaingan kebijakan), consumer protection (perlindungan konsumen), Intellectual Property Rights (IPR) atau yang biasa disebut dengan hak kekayaan intelektual, taxation, dan E-Commerce. Dengan demikian, dapat tercipta iklim persaingan yang adil;  terdapat perlindungan berupa sistem jaringan dari agen-agen perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online.

 

Ketiga, MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, serta teknologi. 

 

Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara Anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.

 

Dari empat fokus penerapan MEA itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu dengan cepat dan tepat melakukan pengawasan terhadap makanan dan obat-obatan yang pasti akan banyak masuk ke Indonesia. Dan sebaliknya, juga pasti akan banyak produk makanan dan obat yang dihasilkan oleh para pelaku usaha di Indonesia sendiri sebagai bentuk persaingan ekonomi dalam era MEA ini.

 

Badan POM sebagai lembaga penjamin keamanan konsumen dan melindungi masyarakat dari dampak buruk makanan dan obat yang beredar di Indonesia, sangat penting meningkatkan pengawasan dan sekaligus penindakan jika ada yang melanggar dari ketentuan. Karena bisa jadi, dalam persaingan nanti para pelaku usaha tidak begitu memperhatikan kualitas dan ini adalah tugas Badan POM guna melakukan penyaringan agar para konsumen terselamatkan dari aksi sembarangan para penjual makanan dan obat-obatan.

 

Kemudian kerja sama yang baik bagi semua pihak harus terus dilakukan oleh Badan POM sebagai ‘kepanjangan tangan’ agar apabila ada hal-hal yang mencurigakan dari sebuah produk makanan dan obat yang beredar bisa langsung dilaporkan, sebelum menelan korban. Dan kerja sama dengan beberapa pihak yang telah dilakukan selama ini perlu juga terus ditingkatkan dan selalu kordinasi dengan baik agar tidak hanya menjadi sebuah formalitas yang tidak berdampak apa-apa terhadap tugas dan fungsi BPOM sendiri.

 

Pola pengawasan yang aktif memang cukup baik dan memang sangat diperlukan saat ini dan ke depan. Namun demikian pengawasan yang dimaksud disini adalah benar-benar aktif dan didasari dengan panggilan jiwa karena menyangkut hajat hidup orang banyak persoalan makanan dan obat-obatan ini. Sebab selama ini, BPOM hanya nampak kerjanya terhadap masyarakat kalau sudah menjelang Hari Raya Idul Fitri, yaitu dalam hal merazia makanan dan minuman kadaluarsa serta obat-obatan barangkali. Padahal di lain itu, juga sangat penting dilakukan pengawasan secara terus menerus karena peredaran makanan dan obat juga mengalir tanpa mengenal waktu dan perayaan hari-hari besar umat beragama.

 

Selanjutnya, perlu lebih digencarkan lagi upaya dan usaha Badan POM untuk melindungi masyarakat dari makanan yang tidak layak konsumsi dan obat-obatan yang justru sangat berbahaya bagi kesehatan karena banyak beredar obat-obatan palsu, seperti kosmetik palsu dan sejenisnya. Dalam hal ini perlu juga kordinasi dan kerja sama yang baik dengan perusahaan-perusahaan kosmetik agar ikut mengawasi beredarnya kosmetik palsu. Dengan kerja sama tersebut, perusahaan kosmetik nanti bisa menginstruksikan kepada para Beauty Advisor-nya (BA) yang ada di seluruh daerah di Indonesia agar mengawasi juga adanya peredaran kosmetik yang diduga luput dari pengawasan Badan POM. Disamping itu, melibatkan sebagian elemen masyarakat juga sangat perlu agar membantu kinerja BPOM.

 

Dengan demikian, jika pengawasan benar-benar dilakukan secara maksimal dan kerja sama yang baik dengan semua pihak terus ditingkatkan dalam persaingan Era MEA ini, pelan tapi pasti Badan POM tidak akan pernah kecolongan di lapangan. Justru sebaliknya, Badan POM akan selalu mendapat pengaduan secara langsung dari masyarakat jika ada produk yang mencurigakan, karena adanya peningkatan kerja sama dengan beberapa lembaga dan elemen masyarakat tersebut. Wallau A’lam

 

Rafiqi Tanziel, Adalah Wartawan www.karimatafm.net

Live Streaming

Search

MITRA USAHA

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Who's Online

We have 35 guests and no members online